3 Obyek Wisata UnYUZUal Di Jepang Yang Bikin Merinding
#LiveUnYuzual

Yuk, take a break sebentar, YUZUsan, dan biarin artikel ini ngebawa kamu ke Jepang dengan beragam ke-UnYUZUal-annya yang indah! Untuk menikmati sebuah obyek wisata, sebenernya bisa dari beragam perspektif. Ada yang nikmatin tempat wisata karena kulinernya, ada yang karena wahana permainan, ada yang keindahan alam, dan masih banyak banget contoh lainnya. Kali ini, kamu akan dibawa ke obyek wisata yang punya keindahan horor. Yes, horror. You hear it right.

Horor yang dimaksud di sini lebih pada riwayat sejarah si obyek wisata. Apalagi kalo kamu lebih mendalami cerita atau konteks di balik obyek wisatanya, dijamin pengalaman kamu ke Jepang nggak akan berasa itu-itu lagi. Soalnya nggak asik juga 'kan ke tempat yang udah terlalu mainstream? Nah ini saatnya kamu perlu sesuatu yang UnYUZUal! 

 

1. Aokigahara ("Suicide Forest")

Akhir tahun 2017, Internet sempet diheboin sama seorang YouTuber bernama Logan Paul karena dia bikin video buat vlog-nya di Aokigahara dan nunjukin sikap yang kurang terpuji terhadap tempat itu. Pastinya, netizen di seluruh dunia pada marah dan Logan Paul akhirnya jadi viral tapi bukan viral yang positif sayangnya. Nah, sebenernya apa sih Aokigahara itu? Sebutan Suicide Forest itu sebenernya bikinan orang-orang sana aja. Pemerintah Jepang nggak pernah secara resmi ngasih nama obyek wisata yang satu ini dengan sebutan Hutan Bunuh Diri loh. As the matter of fact, Aokigahara sebenernya obyek wisata dengan sebutan "Sea of Trees" dan juga karena lokasi yang dekat sama Gunung Fuji.

Tapi pemerintah Jepang juga ngga bisa tutup mata dari kenyataan bahwa angka bunuh diri di negaranya itu tinggi dan cenderung meningkat. Susah juga kan ya buat pemerintah Jepang untuk mencegah bunuh diri warganya yang banyak banget itu, sedangkan bunuh diri deket banget dengan kondisi mental dan psikologis seseorang alias susah banget untuk dideteksi dari luar. Jadi yang pemerintah Jepang bisa lakukan adalah menunjukkan kepedulian. Aokigahara dilestarikan bukan supaya orang bunuh diri lebih banyak, melainkan supaya orang yang akan bunuh diri di situ nyadar bahwa mereka tidak bunuh diri sendirian. Bahwa segelap-gelapnya hidup mereka, akan selalu ada temennya.

Kalo kamu datang ke Aokigahara, kamu pasti baca tulisan Jepang di pintu masuknya yang artinya "Life is a precious gift from their parents. Quietly think once more about your parents, siblings or children. Please don't suffer alone, and first reach out." Mengingat sejarah panjang Jepang, bunuh diri emang ngga bisa dihindarin. Tapi bukan berarti pemerintah Jepang ngga bisa berbuat sesuatu juga.

 

2. Pulau Gunkanjima

Dulu tempat ini adalah salah satu tempat yang populasinya padat loh, YUZUsan. Eh kok sekarang malah terkenal sama sebutan Ghost Town? Jadi gini ceritanya, awal tahun 1900an, Gunkanjima dikembangkan oleh Mitsubishi Corporation karena di bawah pulau ini ada timbunan batubara yang sangat kaya. Ratusan tahun berlalu dan tambang batubaranya jadi makin dalam dan panjang sehingga jadi butuh lebih banyak pekerja di pulau ini. Nah, buat mengakomodasi para miners itu maka dibuatin deh kompleks apartemen 10 lantai. Bahkan dulu di tempat ini ada sekolah, restoran, dan macem-macem wahana. Jadi berasa deh kaya sebuah kota sendiri di pulau ini.

Nah, suatu saat Mitsubishi menutup tambang ini dan semua orang di pulau itu pindah gituh aja, ninggalin pulau ini bener-bener kosong dan nggak terawat. Seiring waktu, bangunan-bangunan pun jadi pada rusak dan tanaman liar mulai pada numbuh. Sempet di antara tahun 1974 sampai 2009, pulau ini disegel oleh pemerintah dan nggak boleh dikunjungin. Tapi kalo sekarang, Pulau Gunkanjima adalah obyek wisata UnYUZUal penting yang nggak bisa kamu lewatin demi kerennya Instagram Feed. Kesimpulannya, yang satu ini sebenernya nggak horor-horor amat sih sejarahnya, cuma tampilannya aja kadang bikin serem ya.

 

3. Kuil Dainichi

Di Jepang memang banyak kuil, tapi kuil yang satu ini bedanya cukup bikin merinding karena ngelibatin yang namanya mumi. Di dalam kuil Dainichi ada yang namanya Sokushinbutsu alias mumi biksu Jepang. Jadi ini adalah praktik kuno dari Buddhism yang digabungkan dengan beragam aliran. And guess what? Para biksu ini memilih untuk meninggal dengan proses yang disebut self-mummification. Self-mummification itu prosesnya berlangsung kurang lebih selama 6 tahun.

3 tahun pertama nih, sang biksu akan hanya melakukan diet khusus dengan makan kacang dan biji-bijian sembari melakukan aktivitas fisik ekstrim yang menghabiskan lemak tubuh. 3 tahun berikutnya, mereka cuma makan kulit dan akar pohon, terus minum teh beracun yang dibuat dari getah pohon Urushi yang biasanya dibuat pernis untuk kerajinan kayu. Ini bikin muntah-muntah dan kehilangan cairan tubuh yang ekstrim, dan yang terpenting adalah membunuh semua belatung yang bisa membuat tubuh menjadi membusuk.

Si biksu kemudian mengunci dirinya di dalam makam batu yang ukurannya tidak lebih besar dari tubuhnya biar nggak bisa gerak dari posisi lotusnya. Meskipun ada kira-kira 28 buah sokushinbutsu yang tersisa, hanya 16 aja yang boleh dikunjungi wisatawan loh. Yang paling terkenal adalah Shinnyokai Shonin di kuil Dainichi ini. Tuh kan UnYUZUal banget!